Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2020

Featured post

Selebar Daerah Pertemuan (Masuknya Portugis ke Indonesia)

Selebar Daerah Pertemuan (Masuknya Portugis ke Indonesia)
Baru saja akan berkembang Agama Islam di Indonesia dari Semenanjung, Portugis telah masuk. Kaum Muslimin baru dalam tahun 1942 terusir habis dari Spanyol, hingga sampai sekarang bekas rupa-wajah orang Arab masih terdapat pada bangsa Spanyol dan Portugis. Dalam tahun kejatuhan Kerajaan Islam penghabisan, Banil Ahmar di Granada itu, Christopus Columbus mengembara mencari India, tetapi bertemu dengan Amerika. Kejayaan yang dicapai Columbus mendapat Amerika itu, menimbulkan semangat pengembaraan pada bangsa Spanyol dan Portugis, sehingga untuk membendung perselisihan, Paus terpaksa campur tangan, dunia dibagi dua, separo buat Spanyol dan separo buat Portugis. Di awal abad keenambelas Portugis dapat merebut Goa, dan di tahun 1511 dapatlah direbutnya Malaka, Kerajaan Islam yang pertama itu. Dan dilanjutkannya pula ke Maluku. Sebelum itu pantai-pantai Teluk Persia pun telah jatuh ke bawah kuasanya.  Syukurlah, karena di Indonesia timbul dua buah Kerajaan baru, yang menggantikan Malaka, dan ke

Selebar Daerah Pertemuan (Masuknya Portugis ke Indonesia)

Selebar Daerah Pertemuan (Masuknya Portugis ke Indonesia)
Baru saja akan berkembang Agama Islam di Indonesia dari Semenanjung, Portugis telah masuk. Kaum Muslimin baru dalam tahun 1942 terusir habis dari Spanyol, hingga sampai sekarang bekas rupa-wajah orang Arab masih terdapat pada bangsa Spanyol dan Portugis. Dalam tahun kejatuhan Kerajaan Islam penghabisan, Banil Ahmar di Granada itu, Christopus Columbus mengembara mencari India, tetapi bertemu dengan Amerika. Kejayaan yang dicapai Columbus mendapat Amerika itu, menimbulkan semangat pengembaraan pada bangsa Spanyol dan Portugis, sehingga untuk membendung perselisihan, Paus terpaksa campur tangan, dunia dibagi dua, separo buat Spanyol dan separo buat Portugis. Di awal abad keenambelas Portugis dapat merebut Goa, dan di tahun 1511 dapatlah direbutnya Malaka, Kerajaan Islam yang pertama itu. Dan dilanjutkannya pula ke Maluku. Sebelum itu pantai-pantai Teluk Persia pun telah jatuh ke bawah kuasanya.  Syukurlah, karena di Indonesia timbul dua buah Kerajaan baru, yang menggantikan Malaka, dan ke

Sultan Khairun dan Sultan Babullah

Sultan Khairun dan Sultan Babullah
Setelah bangsa Portugis dapat memusatkan kekuasaannya di Goa (India), dan merebut Malaka, kemudian dapatlah dia meluaskan kekuasaannya sampai ke Maluku. Padahal sebelum bangsa Portugis masuk ke sana, Islam telah lebih dahulu datang. Dua bangsa yang berjasa menyiar dan menanamkan pengaruh Islam di Maluku, yaitu orang Melayu dari Malaka dan Muballigh-muballigh dari Jawa Timur. Maka di pertengah abad keenambelas itu, sedang Portugis meluaskan kuasanya, yang menjadi Sultan di Ternate adalah Sulthan Khairun. Dan yang menjadi gubernur Portugis di sana ialah De Meoquita. Kedua-duanya adalah orang yang sama keras dan teguh mempertahankan agamanya. Ingat sajalah bahwa pertengahan keenambelas itu, masih keras dan nyata pertentangan Islam dengan Kristen. Dan orang Portugis sangatlah bencinya mendengar Agama Islam. Mereka berniat hendak menghapuskan Agama Islam di tanah-tanah yang telah dikuasainya, tetapi langkahnya senantiasa terhambat oleh Raja-raja Islam. Portugis di awal abad keenambelas, t

Sultan Hasanuddin dan Aru Palaka

Sultan Hasanuddin dan Aru Palaka
Begitu hebat perjuangan Sultan Hasanuddin Makassar melawan perluasan daerah kekuasaan Kompeni di Indonesia sebelah Timur. Sesudah Portugis menguasai Malaka (1511). 100 tahun dibelakang itu Kompeni Belanda pula merebut kekuasaan di laut, baik di Banten dan Jawa atau dilautan Makassar. Maka Hasanuddinlah salah seorang pahlawan bangsa Indonesia lama, yang tetap teguh bertahan.  Pasaran lada dan rempah-rempah di Maluku hendak dimonopoli oleh Kompeni dan Hasanuddin-lah yang bertahan. Sampai pernah dia menyatakan pendiriannya kepada Kompeni, menolak dengan keras kehendak monopoli itu. Sebab yang demikian adalah pertentangan dengan kehendak Allah: "Allah yang mengadakan dunia supaya sekalian manusia berbahagia. Apakah tuan menyangka bahwa Allah mengecualikan pulau-pulau yang jauh dari tempat tinggal bangsa tuan itu untuk perdagangan tuan? ". Demikian Hasanuddin pernah mengucapkan kepada Kompeni. Pendirian beliau, marilah berniaga bersama-sama, mengadu untuk dengan serba kegi

Agama Kesatuan (Islam di Pulau Jawa)

Agama Kesatuan (Islam di Pulau Jawa)
Mas Ransang, yang setelah menjadi Sultan Mataram bergelar "Panembahan Agung Senopati Ing Alogo Abdurrahman ", yang disebut juga Prabu Pandito Cokrokusumo, atau Hanyokrokusumo, yang lebih terkenal dengan sebutan Sultan Agung, (1613 -1645), memanglah seorang di antara Raja-raja di tanah air kita yang terhitung Raja Besar. Di samping dia kita mengingat nama-nama lain yang sezaman dengan dia, sebagai Iskandar Muda Mahkota Alam Aceh, Hasanuddin Makassar, Ranamanggala Mangkubumi di Banten. Di luar negeri terkenal nama-nama Sultan Akbar Abdul Fatah Jalaluddin Muhammad di India (Delhi) dan Sultan Salim Osman di Turki. Sultan Agung naik takhta, kebetulan di waktu Kompeni Belanda baru saja ditumbuhkan, dan baru saja merangkakkan jalannya hendak menguasai tanah air kita, karena hendak merebut rempah-rempah. Keistimewaannya dalam peperangan, percobaannya hendak merebut Jakarta kembali dan mengusir Belanda, meskipun tidak berhasil karena Belanda telah kuat di waktu itu, bukanlah akan

Islam Di Madura - III

Islam Di Madura - III
Sultan Agung yang benar-benar "Agung" itu mangkat pada tahun 1654. Dia seorang pahlawan yang besar sekali minatnya menyatukan tanah Jawa, supaya satu kekuatan menghadapi Kompeni. Baginda pernah mengatur tentara mengepung Jakarta, walaupun tak berhasil, Yan Pieterzon Coen yang terkenal sebagai lambang penjajahan Belanda "nomor 1", adalah duri beracun dalam mata sultan. Kompeni telah berhasil memutuskan hubungan Jawa dengan Indonesia Timur. Yang berhak menjadi gantinya ialah Pangeran Ario Prabu Adi Mataram. Sebab ibunya ialah puteri dari istana Cirebon. Baginda bergelar Amangkurat I (Amangku=memangku. Rat= bumi). Jadi yang memangku bumi ini. Jika Almarhum Sultan Agung berusaha "membuat" satu filsafat kenegaraan menggabungkan Tauhid Islam dengan segala macam khurafat Hindu, sehingga itu ternyata dalam gelarnya sebagai "Sultan" dan sebagai "Prabu", namun pada puteranya adalah satu sikap yang lebih tegas terhadap Islam. Infiltrasi Is

Islam Di Madura - II

Islam Di Madura - II
Setelah Ki Gede Pamanahan dapat pula merebut kuasa dari Pajang dan memindahkan sekalian lambang kebesaran Majapahit ke Mataram, kian terasalah perbedaan "Islam Pesisir" dengan "Islam Pedalaman”. Dalam gelar yang dipakai oleh Sutowijaya putera Ki Gede Pamanahan yang menggantikan beliau (1575) telah nyata, bahwa kebudayaan Hindu pusaka lama hendak digabungkan dengan, kebudayaan Islam mistik, untuk menjadi dasar keagungan Raja. Sutowijaya bergelar "Senopati ing Alogo" (Kepala Balatentara) ditambah dengan "Sayyidin Panatagama" (Yang dipertuan pengatur agama). Kemudian setelah Senopati mangkat (1601), digantikan oleh puteranya Mas Jolang (mangkat 1613), dan dia digantikan pula oleh puteranya Mas Ransang. Mas Ransanglah yang membentuk Filsafat Negara yang sejati, puncak kemegahan Mataram. Dia memakai gelar-gelar yang telah lebih menunjukkan keahliannya menggabungkan pusake lama (Hindu) dengan faham baru (Islam), laksana Kartanegara dahulu telah menggabu

Islam Di Madura - I

 Islam Di Madura - I
Pulau Madura yang kecil itu, yang hanya berbatas belasan mil laut saja dari pantai Surabaya, adalah sebuah pulau yang mempunyai "pribadi" sendiri. Madura tidak dapat dipisahkan lagi dari Islam, walaupun diakui bahwa banyak penduduknya karena buta huruf dan buta agama tidak tahu benar hakikat ajaran Islam itu. Jiwanya mirip dengan jiwa suku Bugis, sama-sama berani mengharung lautan besar, mengadu untung di antara alunan ombak dan gelombang. Tatkala pada tanggal 25 Nopember 1959 saya sempat menziarahi Madura kembali, sesudah ziarah pertama 25 tahun silam (1934) nampak bahwa tradisi-tradisi yang ditanamkan Islam sejak zaman bahari masih banyak yang belum dapat dibongkar oleh tradisi-tradisi moderen pengaruh Barat, yang di daerah lain sudah banyak luntur. Misalnya saja tidak memakai peci atau kopiah jika sholat di mesjid masih akan mendapat teguran keras, mungkin akan dilempari batu. Satu istiadat yang utama pada beberapa kampung, ialah mendirikan langgar kepunyaan keluarga d

Islam dan Majapahit

Islam dan Majapahit
Meskipun telah hidup di zaman baru dan penyelidik sejarah sudah lebih luas daripada dahulu, masih banyak juga orang yang mencoba memutarbalikkan sejarah. Satu di antara pemutarbalikan itu ialah dakwaan setengah orang yang lebih tebal rasa rindunya daripada Islamnya, berkata bahwa keruntuhan Majapahit adalah karena serangan Islam. Padahal bukanlah begitu kejadiannya. Malahan sebaliknya.  Majapahit pada zaman kebesarannya, terutama semasa dalam kendali Patih Gajah Mada, memang adalah sebuah Kerajaan Hindu yang besar di Indonesia, dan pernah mengadakan ekspansi, serangan dan tekanan atas pulau-pulau Indonesia yang lain. Gajah Mada bagi Majapahit adalah laksana Bismarck bagi Jerman. Mencita-citakan suatu imperium besar atas seluruh kepulauan Indonesia, malahan sampai ke Semenanjung Melayu telah mendekati Siam. Imperium besar di bawah kekuasaan Majapahit dan beralas dasar kepada suku Jawa. Terlebih banyak serangan-serangan dan tekanan itu dipimpin oleh Patih Gajah Mada sendiri, ataupun or

Giri Pusat Agama Yang Pertama Di Jawa

Giri Pusat Agama Yang Pertama Di Jawa
TEMPAT YANG PENUH KENANG-KENANGAN DAN KEBESARAN Tidak berapa belas kilo meter saja dari kota Surabaya terdapatlah bukit Giri. Di sana indah benar pandangan ke laut, dan angin sepoi-sepoi lautan mengelus-elus muka kita setelah payah mendaki. Di sanalah berkubur seorang di antara "Wali Sanga". Raden Paku, yang lebih masyhur dengan gelar Sunan Giri, putera dari Maulana Ishak, teman Maulana Malik Ibrahim penyiarpenyiar lslam yang pertama di tanah Jawa. Oleh karena ayahnya kembali ke Pasai dan lama belum juga kembali ke Jawa, Raden Paku diangkat anak oleh seorang perempuan kaya raya Nyi Gede Maloka. Setelah dia besar diserahkan mempelajari agama Islam ke Ngampel, belajar bersama-sama dengan putra Raden Rahmat (Sunan Ngampel) yang bernama Makhdum Ibrahim, yang kemudian lebih terkenal dengan sebutan Sunan Bonang. Di antara 9 wali penyiar Islam di tanah Jawa, kedua beliau inilah yang lebih mendalam pengetahuannya tentang agama Islam. Setelah Sunan Ngampel melihat kedua ana

Pengembara Arab yang Pertama ke Indonesia

Pengembara Arab yang Pertama ke Indonesia
Di dalam catatan sejarah Tiongkok ada tersebut, bahwa pada pertengahan qurun yang ketujuh, terdapatlah sebuah Kerajaan bernama Holing, dan sebuah negeri bernama Chop'o. Yang menjadi Rajanya pada waktu itu ialah seorang perempuan bernama Si-mo. Penulis sejarah bangsa Tiongkok itu menceriterakan, bagaimana aman dan makmurnya negeri di bawah perintah ratu perempuan itu. Tanahnya subur, padinya menjadi. Upacaraupacara Kerajaan berjalan dengan lancar. Ratu dijaga atau diiringkan oleh biti-biti prawara, kipas dari bulu merak bersabung kiri kanan, dan singgasana tempat baginda semayam bersalutkan emas. Keris dan pedang Kerajaan pun bersalutkan emas dan bertatahkan ratna-mutu manikam. Agama yang dipeluk, ialah Agama Budha. Dengan kerjasama antara I Tsing pengembara Tiongkok dengan Jnabadhra, yang dalam bahasa Tiongkok ditulis Yoh na poh t'o lo disalinlah buku-buku agama Budha ke dalam bahasa anak negeri. Tentang keamanan dan kemakmuran negeri Holing itu, kata pencatat sejarah terse